Kamis, 28 Maret 2013

Kitab Tripitaka Milik Umat Buddha

Tripitaka adalah kitab suci agama Buddha. Arti dari Tripitaka itu sendiri yaitu tiga keranjang. Kitab suci ini dibagi menjadi 2, yaitu dalam bahasa pali (tipitaka) dan dalam bahasa sanskerta (tripitaka). Kitab suci Tripitaka merupakan kumpulan literatur resmi agama Buddha berbahasa sanskerta yang terdiri dari banyak kitab. Tiga keranjang yang dimaksudkan diatas diantaranya adalah Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidarma Pitaka. Dalam setiap poin tersebut memiliki arti yang berbeda-beda, diantaranya adalah :
1.      Vinaya Pitaka
Vinaya Pitaka berisi hal-hal yang berkenaan dengan peraturan-peraturan bagi para Bhikkhu dan Bhikkhuni Baik peraturan yang mengatur tata tertib, perilaku fisik ataupun ucapan, pelanggaran-pelanggaran, serta berbagai kategori pengendalian diri dan peringatan sesuai dengan sifat pelanggarannya.
Peraturan yang terdiri atas 3 bagian:
a.       Kitab Sutta Vibhanga yang berisi tentang peraturan-peraturan bagi para Bhikkhu dan Bhikkhuni, terdiri dari:
o    Bhikkhu Vibhanga: berisi 227 peraturan yang mencakup 8 jenis pelanggaran, diantaranya terdapat 4 pelanggaran yang menyebabkan dikeluarkannya seorang Bhikkhu dari Sangha dan tidak dapat menjadi Bhikkhu lagi seumur hidup.
o Bhikkhuni Vibhanga : berisi peraturan-peraturan yang serupa bagi para Bhikkhuni, hanya jumlahnya lebih banyak.
b.      Khandhaka, Kitab Khandhaka terbagi atas :
o    Kitab Mahavagga: berisi peraturan-peraturan dan uraian tentang upacara pentahbisan Bhikkhu, upacara uposatha pada saat bulan purnama dan bulan baru dimana dibacakan Patimokha (peraturan disiplin bagi para Bhikkhu), peraturan tentang tempat tinggal selama musim hujan (vassa), upacara pada akhir vassa (pavarana), peraturan-peraturan mengenai jubah, peralatan, obat-obatan dan makanan, pemberian jubah Kathina setiap tahun, peraturan-peraturan bagi para Bhikkhu yang sakit, peraturan tentang tidur, peraturan tentang bahan jubah, tata cara melaksanakan Sanghakamma (upacara Sangha), dan tata cara dalam hal terjadi perpecahan.
o   Kitab Culavagga: berisi peraturan-peraturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran, tata cara penerimaan kembali seorang Bhikkhu ke dalam Sangha setelah melakukan pembersihan atas pelanggarannya, tata cara untuk menangani masalah-masalah yang timbul, berbagai peraturan yang mengatur cara mandi, pengenaan jubah, menggunakan tempat tinggal, peralatan, tempat bermalam dan sebagainya, mengenai perpecahan kelompok-kelompok Bhikkhu, kewajiban-kewajiban guru (acariya) dan calon Bhikkhu (samanera), pengucilan dari upacara pembacaan Patimokkha, pentahbisan dan bimbingan bagi Bhikkhuni, kisah mengenai Pasamuan Agung Pertama di Rajagaha, dan kisah mengenai Pasamuan Agung Kedua di Vesali.
c.       Parivara
Kitab Parivara memuat ringkasan dan pengelompokan peraturan-peraturan Vinaya, yang disusun dalam bentuk tanya jawab untuk dipergunakan dalam pengajaran dan ujian.
2.      Sutta Pitaka
Sutta Pitaka terdiri atas 5 kumpulan (nikaya) atau buku, yaitu:
1.     Digha Nikaya
Merupakan buku pertama dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 34 Sutta panjang dan terbagi menjadi 3 vagga (Silakkhandhagga, Mahavagga, Patikavagga). 
 
2.     Majjhima Nikaya
                        Merupakan buku kedua dari Sutta Pitaka yang memuat khotbah  
       menengah. 
 
            3.     Samyutta Nikaya
Merupakan buku ketiga dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 7.762 sutta.
       Buku ini dibagi menjadi lima vagga utama dan 56 bagian Samyutta.
 
4.   Anguttara Nikaya
     Merupakan buku keempat dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 9.577 sutta.
      Sutta-sutta di sini disusun menurut urutan bernomor untuk memudahkan
      pengingatan.
 
5.     Khuddaka Nikaya
                           Merupakan buku kelima dari Sutta Pitaka yang terdiri atas kumpulan
                   lima belas kitab, yaitu:
        Khuddaka Patha: bacaan dari bagian-bagian singkat; berisi empat teks
       dan lima sutta, yaitu:
              ∞  Saranattaya
                Dasasikkhapada
                Dvattimsakara
                           Kumarapanha
                Mangala Sutta
              ∞  Ratana Sutta
                          ∞  Tirokudda Sutta
               Nidhikanda Sutta
                          ∞  Metta Sutta
                     Dhammapada : kata-kata dari Dhamma; kumpulan 423 bait yang dibagi  
                   dalam 26 vagga.

                     Udana: kumpulan dari 80 udana yang terbagi menjadi 8 vagga. Kitab ini  
                    memuat khotbah Sang Buddha yang disabdakan pada berbagai kesempatan.
                Bodhi Vagga
                Mucalinda
                Nanda
                Meghiya
                Sonathera
                Jaccandha
                Cula
                Pataligama
                      Itivuttaka : kumpulan 112 sutta pendek dalam 4 nipata yang masing-masing
                    disertai syair.
                      Sutta Nipata : kumpulan ini terdiri atas lima vagga yang memuat 71
        sutta. 
 
                        Vimanavatthu : cerita-cerita mengenai rumah di surga yang merupakan 85  
                      syair dalam tujuh vagga mengenai pahala dan tumimbal lahir di alam-alam
                      surga.
                       Petavatthu : terdiri atas 51 syair dalam 4 vagga mengenai tumimbal lahir  
                      sebagai setan pengembara karena perbuatan-perbuatan tercela.
                      Theragatha : syair tentang para Bhikkhu senior (thera), kumpulan syair-
                      syair, yang disusun oleh para Thera semasa hidup Sang Buddha.
                      Therigatha : tentang para Bhikkhuni senior (theri), buku yang serupa
                      dengan Theragatha yang merupakan kumpulan dari ucapan para Theri semasa
                      hidup Sang Buddha.
                      Jataka : cerita kelahiran merupakan kumpulan yang memuat 547 kisah yang
                      dianggap sebagai cerita tentang kehidupan-kehidupan lampau Sang Buddha.
          Niddesa : terbagi dalam Mahaniddesa, sebuah ulasan mengenai
          Atthakavagga dari Sutta Nipata, dan Culaniddesa, sebuah ulasan mengenai
          Parayanavagga dan Khaggavisana Sutta yang juga dari Sutta Nipata.
          Patisambhidamagga : suatu analisa Abhidhamma tentang konsep dan
          latihan yang sudah disebutkan dalam Vinaya Pitaka dan Digha, Samyutta dan
          Anguttara Nikaya.
          Apadana
          Buddhavamsa
          Cariyapitaka


       3.   Abhidarma Pitaka
Abhidhamma Pitaka berisi uraian filsafat Buddha Dhamma yang disusun secara analitis dan mencakup berbagai bidang, seperti ilmu jiwa, logika, etika, dan metafisika. Jadi merupakan penyajian khusus tentang Dhamma seperti yang terdapat dalam Sutta Pitaka. Pada umumnya, isinya terdapat dalam sutta-sutta akan tetapi yang diuraikan dalam bagian ini adalah bentuk yang terperinci. Kitab ini terdiri atas 7 buah buku (pakara), yaitu:
Dhammasangani: perincian Dhamma-Dhamma, yakni unsur-unsur atau    proses-proses batin.
Vibhanga: perbedaan atau penetapan. Pendalaman mengenai soal-soal dalam Dhammasangani dengan metode yang berbeda. Buku ini terbagi menjadi 8 bab (vibhanga) dan masing-masing mempunyai 3 bagian.
Dhatukatha: penjelasan mengenai unsur-unsur, yaitu mengenai unsur-unsur batin dan hubungannnya dengan kategori lain. Buku ini terbagi menjadi 14 bagian.
Puggalapannatti: penjelasan mengenai orang-orang, terutama menurut tahap-tahap pencapaian merka sepanjang Jalan. Dikelompokkan menurut urutan bernomor, dari kelompok satu sampai sepuluh, seperti sistem dalam Kitab Anguttara Nikaya.
Kathavatthu: pokok-pokok pembahasan, yaitu pembebasan dan bukti-bukti kekeliruan dari berbagai sekte (aliran-aliran) tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi dan metafisika. Terdiri atas 23 bab yang merupakan kumpulan percakapan-percakapan (katha).
Yamaka: kitab pasangan, yang oleh Geiger disebut logika terapan. Pokok masalahnya adalah psikologi dan uraiannya disusun dalam pertanyaan-pertanyaan berpasangan. Kitab ini terbagi menjadi 10 bab yang disebut Yamaka.
Patthana: kitab hubungan, yaitu analisa mengenai hubungan-hubungan (sebab-sebab dan sebagainya) dari batin dan jasmani yang berkenaan dengan 24 paccaya (kelompok sebab-sebab).
Gaya bahasa dalam Kitab Abhidhamma bersifat sangat teknis dan analitis, berbeda dengan gaya bahasa dalam Kitab Sutta Pitaka dan Vinaya Pitaka yang bersifat naratif, sederhana, dan mudah dimengerti oleh umum. Pada dewasa ini sudah banyak bagian dari Tipitaka yang telah diterjemahkan dan dibukukan ke dalam Bahasa Indonesia misalnya Kitab Dhammapada, beberapa Sutta dari bagian Sutta Pitaka lainnya,  beberapa bagian dari Vinaya Pitaka dan juga beberapa bagian (buku) dari Abhidhamma Pitaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar